Seutas teks deskripsi pengalaman oleh Muhammad Syuhil (Murid Kelas IX-3)
Tari Guel merupakan salah satu tarian adat yang berasal dari Gayo, Aceh Tengah. Saya mengenal dan mempelajari tarian ini sejak di bangku sekolah. Dibandingkan dengan Tari Saman yang memiliki gerakan sangat cepat dan membutuhkan kekompakan tinggi, Tari Guel menurut saya tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Gerakannya memiliki ciri khas tersendiri, seperti mengitari seseorang yang duduk di hadapan penari, kemudian menggerakkan tangan ke atas, ke bawah, ke depan, dan ke belakang secara berulang. Meskipun gerakannya sederhana, Tari Guel tetap memiliki keindahan yang membuat saya senang setiap kali mendapat kesempatan untuk menampilkannya.
Sekitar empat tahun yang lalu, saya dan beberapa teman mendapatkan pengalaman yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Suatu hari, guru memanggil kami dan mengatakan bahwa kami akan pergi ke kantor Bupati. Kami tentu saja bertanya-tanya, “Mengapa kami pergi ke sana? Ada apa?” Ternyata, kami mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan menari karena memperoleh undangan langsung dari Bupati. Keesokan harinya, kami bersiap dengan penuh semangat untuk tampil. Sesampainya di sana, saya sangat takjub melihat banyak orang yang datang untuk menyaksikan acara tersebut. Tidak hanya kami, ternyata ada pula peserta dari sekolah lain yang turut menunjukkan kemampuan mereka.
Ketika tiba giliran kami untuk tampil, rasa gugup perlahan berubah menjadi semangat. Kami menari sebaik mungkin, mengikuti setiap gerakan dengan penuh konsentrasi. Gerakan tangan yang naik dan turun seolah mengikuti irama, sementara langkah kaki kami bergerak dengan teratur. Setelah pertunjukan selesai, kami turun dari panggung dengan hati yang dipenuhi rasa lega dan bangga. Tepuk tangan penonton terdengar meriah, seakan menjadi penghargaan atas usaha yang telah kami lakukan. Setelah itu, guru memanggil kami dan memberikan makanan, minuman, serta uang sebagai bentuk apresiasi. Kami kemudian pulang ke rumah untuk beristirahat dengan membawa pengalaman yang sangat menyenangkan.
Namun, ternyata pengalaman itu belum berakhir. Keesokan harinya ketika kami berada di sekolah, guru mengatakan bahwa karena penampilan kami dianggap sangat bagus, kami diminta untuk kembali menampilkan Tari Guel di hadapan seluruh teman dan guru. Kali ini, entah mengapa, saya menari dengan perasaan yang jauh lebih serius daripada penampilan sebelumnya. Saya berusaha memberikan penampilan terbaik dan menikmati setiap gerakan yang telah dipelajari. Ketika pertunjukan selesai, kami kembali turun dari panggung diiringi tepuk tangan yang meriah. Bagi saya, pengalaman tersebut bukan hanya tentang menari, tetapi juga tentang keberanian, kerja sama, dan rasa bangga karena dapat memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Aceh melalui gerakan Tari Guel.
