Seutas cerpen oleh Thasoedi (Guru MTs)
Ada orang-orang yang lebih takut melakukan kebaikan daripada melakukan uang. Bagi mereka, uang bisa dicicil, sementara kebaikan tidak pernah datang pada tanggal jatuh tempo yang jelas. Ia bisa menetap di kepala, tumbuh menjadi rasa bersalah, lalu diam-diam mengubah hidup seseorang menjadi perlombaan untuk membalas sesuatu yang bahkan tidak pernah ditagih.
Dan di antara orang-orang semacam itu, ada seorang anak perempuan bernama Nara.
Nara bukan anak yang kekurangan segalanya. Sepatu sekolahnya memang bukan keluaran terbaru, bekalnya terkadang hanya nasi dengan telur dadar, dan ia sudah hafal cara menahan keinginannya tanpa perlu mendengarkannya dengan keras-keras. Ayahnya bekerja setiap hari, ibunya pandai mengatur pengeluaran, dan rumah mereka berdiri cukup kokoh untuk melindungi penghuninya dari hujan. Hidup mereka biasa-biasa saja, seperti garis lurus yang berliku -liku, namun tetap berusaha menuju esok.
Nara tidak pernah malu akan semua itu. Ia justru bangga karena tahu betapa kerasnya orang tuanya bekerja.
Hanya ada satu hal yang Nara keberatan : menerima .
Ketika seseorang meminjamkan pulpen, Nara akan mengembalikannya dalam keadaan bersih, seolah benda itu baru keluar dari toko. Ketika seorang teman membelikannya minuman, ia akan mengingat harga minuman tersebut sampai berhari-hari. Terlebih lagi, ketika guru membantu membawa setumpuk buku ke ruang kelas, Nara merasa perlu menawarkan diri membersihkan papan tulis sebagai balasannya.
Lucunya, orang lain sering melupakan hal-hal kecil itu hanya dalam hitungan menit. Nara hanya menyimpan rapi-rapi, seperti kuitansi yang tak boleh hilang.
Di sekolah, ia mempunyai tiga teman dekat: Aluna, Bima, dan Sashi.
Yang ketiganya berasal dari keluarga berada. Rumah mereka luas, kendaraan di garasi lebih dari satu, dan kata nanti beli lagi saja terdengar biasa di telinga mereka. Namun, mereka bukan anak-anak manja yang menganggap dunia berputar mengelilingi isi dompet orang tuanya. Mereka terbiasa berbagi, baik karena dididik demikian maupun karena mereka memang senang melihat orang lain tersenyum.
Aluna adalah orang pertama yang akan menawarkan bantuan, bahkan sebelum seseorang selesai mengucapkan kalimat permintaan tolong. Ia punya ketenangan yang membuat masalah terasa lebih kecil dari ukuran sebenarnya.
Sashi berbeda. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu memperhatikan hal-hal yang luput dari mata orang lain. Ia tahu kapan temannya sedang sedih hanya dari cara orang itu mengaduk minuman.
Lalu ada Bima.
Bima adalah alasan mengapa keheningan di antara mereka jarang bertahan lebih dari sepuluh detik. Jika suasana mendadak canggung, ia akan mengeluarkan komentar yang entah datang dari mana.
“Kalau diam terus begini, kita bisa dikira sedang rapat menentukan nasib bangsa,” katanya suatu kali, ketika mereka kehabisan bahan pembicaraan .
Tak seorang pun tertawa keras, tapi setidaknya mereka kembali bernapas seperti manusia biasa.
Mereka berjalan menyenangkan sampai suatu sore, ketika hujan turun begitu derasnya Persahabatan hingga halaman sekolah menyerupai kolam yang lupa diberi ikan.
Nara berdiri di teras, menikmati jalan yang tertutup udara. Payungnya tertinggal di rumah, sementara uang di sakunya hanya cukup untuk ongkos pulang. Ia sedang menghitung kemungkinan berlari menuju halte ketika Aluna datang membawa payung besar.
“Pulang bareng, yuk. Aku antar sampai halte.”
Tawarannya sederhana . Bahkan terlalu sederhana untuk memikirkan lama-lama.
Namun, bagi Nara, bantuan sekecil apa pun bisa menjelma gunung yang harus ia daki. Ia membayangkan dirinya berdiri di bawah payung Aluna, lalu membayangkan semua kesempatan ketika ia mungkin bisa membalasnya. Bagaimana kalau Aluna sakit dan membutuhkan bantuan? Bagaimana kalau suatu hari keluarga Aluna kesulitan? Bagaimana kalau dia tidak punya apa-apa untuk diberikan?
Pikirannya berlari jauh, meninggalkan tubuhnya yang masih berdiri di teras sekolah.
“Enggak usah, aku bisa menunggu hujan reda.”
Aluna menatap langit. Hujan itu sepertinya tak kunjung berhenti , bahkan suara petir sesekali terdengar seperti langit sedang mengomel.
“Kamu yakin?”
Nara peninjau.
Bima meliriknya, lalu melirik hujan. “Kalau kamu menunggu sampai reda, mungkin kita sudah lulus kuliah saat kamu tiba di rumah.”
Nara tertawa kecil, tapi tetap menolak.
Akhirnya, ketiganya pulang lebih dulu. Nara menyusul hampir satu jam kemudian, dengan ujung rok basah, sepatu berdecit, dan rambut yang menempel di pipi. Ia tiba di rumah sambil merapikan, lalu berbohong kepada ibunya bahwa hujan baru turun ketika ia hampir sampai.
Malam itu, ia merasa lega karena tidak merepotkan siapa pun.
Anehnya, kelegaan itu terasa mirip sama.
Hari-hari berikutnya, kebiasaan Nara semakin terlihat. Saat Aluna menawarkan bekal karena Nara lupa membawa makan siang, ia menolak sambil berkata sudah kenyang. Saat Sashi ingin membelikannya buku catatan baru karena buku miliknya hampir habis, Nara buru-buru mengatakan bahwa ia masih punya banyak halaman kosong. Bahkan ketika Bima menawarkan untuk mengajarinya matematika menjelang ujian, Nara menjawab bahwa ia bisa belajar sendiri.
Bima mengangkat kedua tangannya. “Baiklah. Kalau suatu hari angka-angka itu tertanam di kepalamu , panggil kami.”
Kali ini, Nara benar-benar tertawa.
Namun, setelah mereka pergi, ia kembali menatap ke hadapan soal-soal matematika yang terasa seperti ditulis menggunakan bahasa makhluk luar angkasa.
Ia tidak membenci bantuan teman-temannya. Justru itulah masalahnya.
Nara tahu mereka tulus. Ia tahu Aluna tidak akan menghitung harga payungnya, Sashi tidak akan membuat daftar utang buku catatan, dan Bima tidak akan mengirimkan tagihan untuk setiap rumus yang diajarkannya. Mereka membantu karena ingin membantu, mendirikan itu.
Tetapi Nara tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari nanti, kebaikan-kebaikan tersebut akan menumpuk menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk dibalas.
Baginya, menerima kebaikan seperti memegang gelas penuh sampai ke bibir. Ia takut bergerak sedikit saja, semuanya akan tumpah. Sementara orang-orang di sekitarnya hanya ingin memberikan segelas udara ketika ia kehausan.
Suatu hari, hasil ujian matematika matematika. Nilai Nara tidak buruk, tetapi cukup untuk membuatnya lama . Ia sudah belajar sampai larut malam, mengorbankan waktu istirahat dan beberapa halaman buku yang penuh coretan. Tetap saja, hasilnya tidak sesuai harapan.
Sashi yang duduk di sebelahnya menyodorkan sebungkus roti.
“Makan dulu. Nanti kita belajar bareng.”
Nara hendak menolak seperti biasa, tetapi kata-kata itu berhenti di tenggorokannya. Ada sesuatu yang melelahkan dari terus-menerus berpura-pura tidak membutuhkan apa-apa.
Ia mengambil roti itu perlahan.
“Terima kasih,” ucapnya.
Hanya doa. Tidak ada janji untuk mengganti harga roti, tidak ada kesepakatan mencuci kotak bekal, tidak ada hitung-hitungan tentang apa yang harus ia lakukan sebagai balasan.
Dan, ajaibnya, bumi tidak berguncang.
Bima yang sedari tadi mengamati mereka mengangguk khidmat. “Akhirnya, sejarah mencatat peristiwa besar. Nara menerima roti tanpa menyusun rencana pembayaran.”
“Kaim, Bim,” ujar Aluna sambil menahan senyum.
“Pu na teuma”. Aku kan belajar sejarah.”
Nara tertawa bersama mereka. Kali ini, tawanya tidak segera hilang setelah ia selesai mengeluarkannya.
Oleh karena itu, mereka belajar bersama di perpustakaan. Aluna menjelaskan rumusnya, Sashi membantu Nara memahami soal, dan Bima membuat analogi yang begitu aneh hingga beberapa kali mereka harus mengulangi pelajaran dari awal. Waktu berjalan tanpa terasa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara tidak sibuk menghitung berapa banyak yang telah ia terima.
Ia hanya belajar.
Menjelang pulang, Nara membereskan bukunya dan menatap temannya yang ketiga . Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kalimat yang muncul di kepalanya terasa terlalu kecil untuk menampung perasaannya.
“Aku takut enggak bisa membalas semua kebaikan kalian,” katanya akhirnya.
Ketiganya mengapresiasi.
Tidak ada yang langsung menjawab. Barangkali untuk pertama kalinya, Bima pun kehabisan lelucon.
Aluna kemudian menutup bukunya. “Nara, kami membantu kamu bukan karena sedang menabung supaya suatu hari kamu membalasnya.”
Sashi mengangguk. “Kalau nanti kami butuh bantuan, kami akan bilang. Kamu enggak harus menebaknya dari sekarang.”
Bima mengangkat satu jari, seolah menyampaikan pidato penting . “Lagi pula, kalau semua kebaikan harus dibayar lunas, persahabatan kita akan berubah jadi koperasi.”
Mereka tertawa. Bahkan Nara tertawa sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Kalimat-kalimat itu tidak serta-merta menghapus ketakutannya. Perasaan yang dibangun selama bertahun-tahun tidak akan runtuh hanya karena beberapa ucapan baik. Esok hari, mungkin ia masih akan merasa sungkan ketika seseorang menawarkan bantuan. Mungkin dia masih akan berpikir terlalu jauh, mencari cara agar tidak menjadi beban.
Namun, sayangnya , ia mempelajari sesuatu yang belum pernah benar-benar dipahaminya: kebaikan tidak selalu datang untuk menciptakan kewajiban. Terkadang, kebaikan hadir karena seseorang melihat kita sedang kesulitan dan memilih untuk tidak membiarkan kita menghadapinya sendirian.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati sebuah toko kecil. Nara berhenti ketika melihat Aluna kesulitan membawa beberapa buku dan botol minumnya sekaligus. Tanpa banyak berpikir, ia mengambil dua buku dari tangan Aluna.
“Sini, aku bawakan.”
Aluna menyerahkannya begitu saja, seolah itu bukan sesuatu yang luar biasa.
Dan memang bukan.
Nara berjalan di samping sahabatnya, membawa dua buku yang tidak terlalu berat. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan mampu membalas semua kebaikan yang pernah diterimanya. Ia bahkan mulai curiga bahwa hidup bukanlah tempat untuk menyelesaikan semua hitungan sampai hasil akhirnya nol.
Mungkin suatu hari nanti, Aluna akan membutuhkan bantuannya. Mungkin Sashi akan datang dengan masalah yang tidak bisa diselesaikannya sendiri. Mungkin Bima, si pelawak yang selalu punya kata-kata untuk segala suasana, akan membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkannya tanpa melontarkan satu lelucon pun.
Dan jika hari itu tiba, Nara ingin berada di sana.
Bukan karena utang. Bukan karena takut dianggap tidak tahu terima kasih. Melainkan karena ia menyayangi mereka.
Langit sakit perlahan berubah jingga. Bayangan mereka memanjang di trotoar, kadang saling bertumpuk, kadang terpisah, tetapi tetap bergerak ke arah yang sama.
Nara masih punya banyak hal untuk dipelajari. Tentang keberanian meminta bantuan, tentang menerima tanpa merasa rendah, dan tentang melepaskan pikiran bahwa setiap kebaikan harus memiliki balasan yang setimpal.
Namun, untuk hari itu, ia sudah cukup berani melakukan satu hal sederhana.
Ia membiarkan dirinya dibantu.
Dan barangkali, bagi seseorang yang selama ini menganggap kebaikan sebagai hutang yang tak kunjung datang, itulah langkah pertama menuju kebebasan.
Sebab tidak semua tangan yang terulur sedang menunggu sesuatu yang sebaliknya . Ada tangan-tangan yang hanya ingin memastikan kita tidak jatuh.
Kita tidak harus membayar mereka dengan rasa bersalah.
Terkadang, kita hanya perlu menerima uluran itu, belajar berdiri kembali, lalu suatu hari mengulurkan tangan yang sama kepada orang lain.
Bukan untuk melunasi masa lalu, melainkan agar kebaikan yang pernah menyelamatkan kita tidak berhenti pada diri kita sendiri.
