Kasih Yang Tertutup

Seutas cerpen oleh Muhammad Kamal Basya (Murid Kelas IX)

Namaku Rafi. Aku tinggal di sebuah kampung kecil di pinggiran Pidie, tempat di mana pohon mangga tumbuh hampir di setiap pekarangan rumah. Di kampung kami, ada satu nama yang paling sering disebut anak-anak dengan nada takut berbisik — Pak Harfan.

Pak Harfan adalah pemilik kebun mangga terbesar di ujung gang. Orangnya tinggi, kulitnya gelap terbakar matahari, dan suaranya besar seperti guntur di musim hujan. Kalau sudah berteriak, suaranya bisa terdengar sampai tiga rumah sebelah. Tidak ada anak di kampung kami yang berani bermain di dekat kebunnya, apalagi masuk ke dalamnya.

Tapi justru karena itu, kebun Pak Harfan menjadi semacam tantangan tersendiri bagi kami — aku, Doni, dan Jojo. Bertiga kami sudah berkali-kali merancang rencana untuk mengambil mangga dari pohon paling rindang di sudut kebunnya. Bukan karena kami tidak punya uang untuk membeli. Bukan juga karena mangga itu istimewa betul rasanya. Tapi karena rasanya berbeda — mangga curian selalu terasa lebih manis dari yang dibeli.

Itu kata Doni, dan bodohnya kami semua percaya.

Sore itu, matahari sudah condong ke barat. Angin bertiup pelan, menggoyang daun-daun mangga sampai buah-buahnya bergesek satu sama lain. Dari balik pagar bambu, aku dan Doni mengintip ke dalam kebun. Ada satu pohon yang buahnya paling lebat — kulitnya sudah mulai menguning di beberapa bagian, pertanda matang.

“Pak Harfan lagi tidur siang,” bisik Doni. “Sekarang waktunya.”

Aku menelan ludah. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Di belakang kami, Jojo berdiri sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Keringat sudah membasahi dahinya meski cuaca tidak terlalu panas.

“Kamu yakin?” tanyaku pada Doni.

“Yakin. Ayo sebelum keburu bangun.”

Kami bertiga melompati pagar bambu itu satu per satu. Aku duluan, lalu Doni, lalu Jojo yang celananya hampir tersangkut di ujung bambu. Kami berlari jongkok menuju pohon mangga itu, seperti tentara dalam film yang kami tonton di rumah Pak RT.

Doni langsung memanjat. Tangannya sudah terlatih — dalam hitungan detik ia sudah sampai di cabang pertama. Aku berdiri di bawah sebagai penangkap, dan Jojo berjaga di dekat pagar kalau-kalau ada yang datang.

Tiga buah mangga sudah jatuh ke tanganku ketika tiba-tiba terdengar suara itu.

“HEI! TURUN!”

Suara itu membelah sore seperti petir. Aku dan Doni langsung lompat — Doni dari pohon, aku dari posisi berdiri — dan berlari sekencang mungkin ke arah pagar. Aku melompati pagar duluan. Doni menyusul. Tapi ketika aku menoleh ke belakang, Jojo tidak ada.

Kakiku terasa berat, tapi aku terus berlari. Doni pun sama. Kami tidak berani berhenti sampai tiba di markas kami — sebuah balai kecil dekat sawah yang sudah lama tidak dipakai, yang kami sepakati sebagai tempat berkumpul kalau ada masalah.

Kami duduk di lantai balai itu, mengatur napas yang kacau balau.

“Gimana ini?” kata Doni, wajahnya pucat. “Jojo ketangkap sama Pak Harfan.”

“Iya,” kataku. Bayangan Pak Harfan dengan suara gunturnya langsung melintas di kepala. “Diapain ya sama Pak Harfan?”

Kami berdua terdiam. Dalam benak kami, Jojo sedang menghadapi hal yang mengerikan — mungkin dimarahi habis-habisan, mungkin diseret ke rumahnya, mungkin dilaporkan ke orang tuanya. Kami merasa bersalah sudah meninggalkan dia.

Belum sempat kami sepakat mau balik menolong, terdengar suara langkah kaki dari arah jalan setapak menuju balai.

Kami langsung berdiri, siap kabur lagi.

Tapi yang muncul dari balik semak adalah Jojo — berjalan santai, satu tangan memegang kantong plastik bening yang isinya penuh buah mangga. Wajahnya tidak pucat, tidak menangis, tidak ada tanda-tanda habis dimarahi. Malah ada senyum kecil di sudut bibirnya.

Aku dan Doni melongo.

“Kamu… kenapa nggak diapa-apain?” tanyaku, hampir tidak percaya.

Jojo duduk di samping kami, meletakkan kantong plastik itu di lantai. “Aku nggak diapa-apain kok,” jawabnya ringan.

“Bohong,” kata Doni. “Pak Harfan tuh galak banget. Masa nggak ngapa-ngapain?”

“Malah aku dibantuin.” Jojo menunjuk ke arah kakinya. Baru kami sadar ada plester cokelat menutupi lututnya — rupanya waktu berlari tadi ia jatuh dan lututnya tergores. “Waktu aku jatuh, Pak Harfan yang masang plesternya.”

Aku dan Doni saling pandang.

“Terus…” Jojo mengangkat kantong plastik itu, “aku dikasih mangga segini.”

Hening sejenak.

“Nggak mungkin,” gumamku.

Tapi kantong plastik itu nyata. Mangga-mangga itu nyata. Dan plester di lutut Jojo itu juga nyata.

Jojo kemudian menceritakan apa yang terjadi. Ketika kami kabur dan dia tertinggal, kakinya tersandung akar pohon dan ia jatuh cukup keras. Pak Harfan yang mengejar justru berhenti dan menghampirinya. Bukannya memarahi, lelaki tua itu malah berlutut dan memeriksa luka di lutut Jojo.

“Pak Harfan masuk ke rumah bentar,” cerita Jojo, “terus keluar bawa kotak P3K. Diapit lutut aku, dibersihkan lukanya, terus diplester.”

“Nggak marah sama sekali?” tanya Doni.

“Nggak. Cuma bilang, ‘Lain kali kalau mau mangga, minta dulu. Jangan kayak maling.'” Jojo menirukan suara besar Pak Harfan dengan agak lucu. “Terus dia masuk lagi ke rumah, keluar bawa mangga-mangga ini. Katanya buat kita bertiga.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Selama ini kami takut setengah mati pada Pak Harfan. Kami pikir dia kejam, tidak suka anak-anak, dan akan menghukum siapapun yang masuk ke kebunnya. Ternyata di balik suaranya yang keras dan tampangnya yang sangar, ada sesuatu yang sama sekali berbeda.

“Kenapa dia nggak pernah bilang dari dulu kalau mau minta ya dikasih?” tanyaku pelan, lebih kepada diri sendiri.

Doni mengambil satu mangga dari kantong, membaui kulitnya. “Mungkin dia nggak tau kita takut minta.”

Kami bertiga terdiam sebentar, masing-masing memikirkan hal yang sama. Betapa kami sudah salah menilai seseorang hanya dari penampilannya. Betapa kami terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa orang yang keras suaranya pasti keras hatinya juga.

Keesokan harinya, aku, Doni, dan Jojo pergi ke rumah Pak Harfan. Kali ini bukan untuk mencuri. Kami berdiri di depan pintu dan mengetuk dengan sopan.

Pak Harfan membukakan pintu. Wajahnya tetap sama — tegas, kulit gelap, alis tebal. Tapi kali ini aku tidak merasa takut.

“Pak,” kataku, “kami mau minta maaf. Kemarin kami masuk ke kebun Bapak tanpa izin. Itu salah.”

Pak Harfan menatap kami bertiga bergantian. Lama. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat — senyum kecil yang mungkin jarang sekali muncul di wajahnya.

“Sudah tahu salah, bagus,” katanya. “Masuk. Makan dulu.”

Dan di meja makan rumah yang sederhana itu, Pak Harfan — lelaki paling ditakuti di kampung kami — menghidangkan potongan mangga matang beserta teh panas untuk tiga anak yang kemarin masuk ke kebunnya seperti maling.

Mangga itu rasanya manis. Tapi bukan karena dicuri.

Justru karena diberikan dengan ikhlas, rasanya jauh lebih manis dari yang pernah aku bayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *