Oleh: Khairul Walidin
Banyak orang takut dengan kata “ambisi.” Mereka menganggap ambisi sebagai kesombongan, padahal tanpa ambisi, tak akan lahir tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Tanpa ambisi, Bilal hanya akan tetap menjadi budak, dan bukan muazin pertama Islam. Tanpa ambisi, Umar takkan menjadi Khalifah yang ditakuti langit dan bumi. Tanpa ambisi, Muhammad ﷺ takkan menaklukkan dunia dengan kelembutan akhlak dan kekuatan iman.
Ambisi itu bukan angan-angan kosong. Ia adalah tekad yang hidup dalam dada, yang menolak menjadi biasa. Ia adalah panggilan hati yang berkata: “Aku diciptakan untuk hal besar.”
Sebagian santri dan murid mungkin merasa tertinggal. Tidak rangking, tidak juara, tidak jadi ketua kelas, tidak pernah diminta maju ke depan saat belajar. Tapi ingatlah: tidak menjadi yang terlihat, bukan berarti tidak punya masa depan, bukan?
Siapa yang tahu bahwa seorang anak gembala seperti Musa akan berdiri di hadapan Fir’aun dengan tongkat yang mampu membelah lautan? Siapa sangka bahwa anak yatim yang tumbuh di pelosok Makkah akan menjadi Nabi penutup, pemimpin segala pemimpin?
Karena masa depan bukan ditentukan nilai rapor, tapi arah pikiran.
Dan pikiranmu adalah takdirmu.
“You become what you think about.”
Begitu kata Earl Nightingale, tokoh motivasi yang mengguncang Amerika.
Dan jauh sebelum itu, Allah telah menjanjikan dalam hadits qudsi:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, jika kamu menyangka dirimu akan menjadi orang besar, maka Allah akan menuntunmu ke arah itu. Tapi jika kamu mengira hidupmu hanya akan menjadi pelengkap zaman, maka itulah yang kau dapat.
Tugas para guru tidak hanya mengisi kepala murid dengan ilmu, tapi menyalakan jiwa mereka dengan harapan dan semangat.
Karena banyak anak tidak butuh nasihat yang panjang. Mereka butuh keteladanan yang nyata. Cara kita berjalan, berbicara, menyapa, memaafkan, itulah yang mereka kenang.
Rasulullah ﷺ tidak membentuk para sahabat hanya dengan perintah dan larangan, tapi dengan hubungan batin yang mendalam. Maka Ali bin Abi Thalib mencintai beliau bukan hanya karena kebenaran ajarannya, tapi karena beliau adalah tempat Ali bersandar sejak kecil. Maka Umar yang keras bisa menangis dalam sujud karena cinta dan hormatnya kepada Nabi.
“Orang tidak peduli seberapa hebat kamu bicara, sampai mereka tahu seberapa besar kamu peduli.”
Theodore Roosevelt
Santri dan murid tidak akan mendengar guru yang tidak hadir dalam hidup mereka. Tapi satu senyuman yang tulus, satu panggilan nama yang hangat, satu doa yang diucapkan diam-diam untuk mereka bisa mengubah seluruh arah hidup seseorang.
Maka mari kita bimbing generasi ini bukan dengan marah-marah, bukan dengan membanding-bandingkan, tapi dengan mempercayai mereka bahkan sebelum mereka percaya pada dirinya sendiri.
Ambisi itu perlu.
Tapi ia butuh arah.
Dan arah itu dibentuk oleh keteladanan.
Agar mereka berani bermimpi menjadi pemimpin umat, pengubah nasib bangsa, penjaga nilai-nilai ilahi di tengah badai zaman.
Tugas guru adalah menunjukkan bahwa menjadi besar itu bukan soal kaya atau terkenal, tapi soal seberapa besar manfaatmu, seberapa dalam cintamu kepada agama, dan seberapa kuat punggungmu menanggung amanah kebaikan.
“Dream big. Start small. But most of all, start.”
Simon Sinek
Karena dunia ini akan berubah bukan oleh mereka yang sempurna, tapi oleh mereka yang mulai bergerak, meski dengan langkah goyah.
Dan kepada kalian, para santri dan murid yang sedang merasa kecil…
Dengarkan ini baik-baik:
Setiap orang besar dulu pernah diremehkan.
Setiap tokoh dunia pernah kesepian.
Setiap cahaya pernah muncul dari kegelapan.
Maka jangan padam hanya karena belum bersinar.
Bangkitlah. Belajarlah. Bermimpilah!
Karena dunia sedang menunggu giliranmu.
Dan ingatlah, dalam sejarah panjang umat ini bukan mereka yang paling pintar yang dikenang, tapi mereka yang paling istiqamah.
Karena di antara wajah-wajah yang hari ini hanya duduk diam di sudut kelas, bisa jadi ada yang kelak akan menulis sejarah baru umat ini. Dan ketika hari itu tiba, semoga engkau termasuk yang pertama menyemangatinya, bukan yang dulu meremehkannya.[]
