Konsisten Menjaga Mutu, Adaptif Menghadapi Perubahan
Pidie Jaya – Perubahan standar internasional manajemen mutu kembali memasuki babak baru. Setelah hampir satu dekade menjadi acuan organisasi di berbagai sektor, ISO 9001:2015 resmi digantikan oleh ISO 9001:2026 yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO) pada 16 September 2026.
Perubahan tersebut turut menjadi perhatian Dayah Jeumala Amal (DJA) sebagai lembaga pendidikan yang telah menjadikan sistem manajemen mutu sebagai bagian penting dalam pengelolaan lembaga.
Bagi DJA, hadirnya ISO 9001:2026 bukan sekadar perubahan nomor standar, tetapi menjadi momentum untuk kembali melakukan evaluasi, pembenahan, dan penguatan terhadap sistem yang selama ini telah berjalan.
DJA siap menghadapi perubahan dan melakukan transisi menuju ISO 9001:2026.
Dari 2008, Mutu Menjadi Bagian dari Perjalanan DJA
Komitmen Dayah Jeumala Amal terhadap manajemen mutu bukanlah sesuatu yang baru. DJA telah menerapkan ISO 9001 sejak tahun 2008 dan terus mengikuti perkembangan standar manajemen mutu yang berlaku.
Penerapan ISO kemudian menjadi bagian dari upaya DJA membangun tata kelola lembaga yang sistematis, terukur, terdokumentasi, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Pada 2016, DJA melanjutkan penerapan ISO 9001:2015, mengikuti perkembangan standar internasional yang pada saat itu menjadi acuan terbaru sistem manajemen mutu.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa budaya mutu di DJA bukan dibangun dalam waktu singkat. Ia tumbuh melalui proses panjang, evaluasi, audit, pembenahan, serta keterlibatan berbagai unsur dalam organisasi.
Karena itu, ketika ISO kembali melakukan pembaruan standar pada tahun 2026, DJA tidak melihatnya sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebagai bagian dari perjalanan untuk terus berkembang.
ISO 9001:2026: Bukan Sekadar Perubahan Dokumen
ISO menjelaskan bahwa ISO 9001:2026 tetap mempertahankan prinsip-prinsip utama sistem manajemen mutu, tetapi memberikan sejumlah penekanan dan kejelasan baru, antara lain pada kepemimpinan, budaya mutu, perilaku etis, keselarasan dengan strategi organisasi, serta pengelolaan risiko dan peluang.
Standar terbaru tersebut juga tetap mempertahankan fondasi penting seperti fokus pada penerima layanan, pendekatan proses, pemikiran berbasis risiko, dan perbaikan berkelanjutan.
Bagi lembaga pendidikan seperti DJA, prinsip-prinsip tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat.
Mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga oleh bagaimana lembaga merencanakan program, mengelola sumber daya manusia, memberikan pelayanan kepada murid, mengelola sarana dan prasarana, mengambil keputusan, mengidentifikasi risiko, melakukan evaluasi, serta memastikan setiap proses terus mengalami perbaikan.
Dengan demikian, ISO bukan sekadar dokumen di atas meja, melainkan sistem yang harus hidup dalam budaya kerja seluruh warga DJA.
Menjadikan Perubahan sebagai Energi untuk Berbenah
Menghadapi ISO 9001:2026, DJA akan melakukan peninjauan terhadap sistem manajemen mutu yang telah berjalan.
Langkah tersebut mencakup pemahaman terhadap perubahan standar, melakukan gap analysis, meninjau kembali dokumen dan prosedur, memperkuat pemahaman personel, serta menyesuaikan sistem yang diperlukan agar tetap efektif dan relevan.
ISO sendiri menekankan bahwa organisasi yang telah menerapkan ISO 9001:2015 tidak perlu membangun sistem dari awal. Organisasi dapat mempertahankan sistem yang sudah berjalan dan melakukan perubahan secara terarah pada bagian-bagian yang diperlukan.
Hal tersebut menjadi modal penting bagi DJA.
Sistem telah dibangun. Budaya mutu telah ditanamkan. Kini saatnya diperkuat dan disesuaikan dengan tuntutan zaman.
Mutu Adalah Tanggung Jawab Bersama
Perubahan menuju ISO 9001:2026 juga menegaskan bahwa mutu bukan hanya tanggung jawab bagian SMM.
Mutu adalah tanggung jawab seluruh unsur lembaga.
Pimpinan memiliki tanggung jawab dalam memberikan arah dan kepemimpinan. Kepala bagian dan unit kerja bertanggung jawab memastikan proses berjalan efektif. Guru berperan menjaga mutu proses pendidikan dan pembelajaran. Tenaga kependidikan memastikan pelayanan dan administrasi berjalan dengan baik. Seluruh warga DJA memiliki peran dalam menjaga lingkungan kerja yang tertib, profesional, dan berorientasi pada perbaikan.
Karena itu, semangat transisi menuju ISO 9001:2026 harus dibangun melalui kesadaran bersama bahwa setiap pekerjaan memiliki standar, setiap proses perlu dievaluasi, dan setiap kekurangan harus menjadi peluang untuk melakukan perbaikan.
Melangkah dari Mutu Menuju Budaya Mutu
Bagi Dayah Jeumala Amal, perjalanan ISO sejak 2008 merupakan bagian dari ikhtiar membangun lembaga pendidikan yang profesional tanpa meninggalkan karakter kedayahan dan nilai-nilai Islam.
Perubahan ISO 9001:2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali semangat tersebut.
DJA ingin memastikan bahwa sistem manajemen mutu tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan sertifikasi, tetapi benar-benar memberikan manfaat terhadap peningkatan kualitas tata kelola, pelayanan, pembelajaran, dan seluruh proses pendidikan.
Karena sertifikat adalah bukti, tetapi budaya mutu adalah tujuan.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade menerapkan sistem manajemen mutu, Dayah Jeumala Amal kini menatap fase baru.
Dari ISO 9001:2015 menuju ISO 9001:2026.
Bukan sekadar berganti standar, tetapi terus memperbaiki cara kerja, memperkuat budaya mutu, meningkatkan pelayanan, dan mempersiapkan DJA menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
Dayah Jeumala Amal siap berubah.
Dayah Jeumala Amal siap beradaptasi.
Dayah Jeumala Amal siap menuju ISO 9001:2026.
Mutu bukan sekadar standar yang harus dipenuhi, tetapi budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
— Tim SMM Dayah Jeumala Amal
