SANG PENJAGA DI BALIK PRASANGKA

Oleh: Muhammad Farhan Fadhillah

Ustadz Mahmud mengusap jenggot putihnya sambil menatap langit Banda Aceh yang mulai berubah orange. Azan Maghrib dari masjid Baiturrahman terdengar sayup-sayup, bercampur dengan suara riuh para santri yang berlarian menuju tempat wudhu. Di Pesantren Al-Ikhlas tempat dia mengabdi selama 15 tahun, momen seperti ini selalu membuatnya merenung.

“Ustadz,” panggil Fatimah, salah satu santri putri kelas 3 Aliyah. Wajahnya tampak cemas. “Bisa bicara sebentar?”

“Tentu, nak. Ada apa?”

“Ustadz, saya mau complain tentang Ustadz Mulia.”

Ustadz Mahmud menghela napas dalam. Bukan pertama kali dia mendengar keluhan tentang Ustadz Mulia, pengasuh muda berusia 32 tahun yang baru bergabung dua tahun lalu. Pemuda asal Pidie itu memang… istimewa.

“Keluhan apa lagi kali ini?”

“Kemarin dia nyamperin saya ke asrama putri, ngasih obat batuk. Katanya dia denger saya batuk waktu ngaji. Kan aneh, Ustadz. Cowok masuk area putri, ngasih obat segala. Kayak ga percaya sama pengasuh putri.”

Ustadz Mahmud terdiam. Dia paham betul bagaimana cara kerja pikiran santri remaja. Dalam budaya Aceh yang kental dengan nilai-nilai Islam, memang ada batasan-batasan yang harus dijaga antara laki-laki dan perempuan. Tapi dia juga tahu siapa Ustadz Ridwan sebenarnya.

“Fatimah, kamu tau kenapa dia lakukan itu?”

“Mungkin dia suka sama saya, Ustadz. Makanya sok perhatian.”

“Subhanallah, Fatimah. Kamu mikir yang tidak-tidak. Ustadz Mulia itu sudah beristri, punya anak. Dia bukan tipe orang yang kamu pikir.”

Fatimah tampak tidak yakin. “Tapi kenapa dia selalu ikut campur urusan santri? Kemarin dia beliin buku tulis buat Ahmad yang ga punya uang. Lusa dia nganterin Khadijah ke rumah sakit waktu demam. Kayak dia mau jadi hero atau gimana.”

Ustadz Mahmud menatap Fatimah dengan pandangan yang sulit diartikan. “Nak, kamu mau denger cerita?”

“Cerita apa, Ustadz?”

“Cerita tentang Ustadz Mulia. Cerita yang mungkin akan merubah pandangan kamu tentang dia.”

 Flashback – 15 tahun yang lalu

Desa Peureumeue, Pidie, masih mencoba bangkit dari trauma tsunami 2004. Mulia yang baru berusia 17 tahun duduk di reruntuhan yang dulu adalah rumahnya. Kedua orangtuanya meninggal saat gelombang besar itu menyapu kampung mereka.

“Mulia, ayo ikut bang,” panggil Zulkarnain, kakak sepupunya. “Kita tinggal di pengungsian aja. Nanti ada bantuan.”

Tapi Mulia menggeleng. “Saya mau nyari adik saya dulu, bang. Siti masih belum ketemu.”

“Wan, udah seminggu kita nyari. Mungkin dia…”

“Jangan bilang gitu!” teriak Mulia. “Siti masih hidup! Saya yakin!”

Zulkarnain menghela napas. Dia paham betul bagaimana rasanya kehilangan keluarga. Tapi dia juga tahu bahwa harapan kosong hanya akan menyiksa.

“Baik, kita cari lagi. Tapi kalo sampai maghrib belum ketemu, kita pulang ke pengungsian.”

Mereka berjalan menyusuri reruntuhan demi reruntuhan. Mulia memanggil nama adiknya dengan putus asa. Hingga akhirnya, dari balik tumpukan kayu, terdengar suara lemah.

“Abang… abang Mulia…”

“SITI!” Mulia berlari menuju suara itu. Di bawah tumpukan kayu dan kain, dia menemukan Siti yang berusia 8 tahun. Badannya luka-luka, tapi masih hidup.

“Abang… Siti takut… Siti haus…”

Mulia menggendong adiknya sambil menangis. “Maaf, bang. Abang telat nyari Siti. Abang janji ga akan ninggalin Siti lagi.”

Sejak hari itu, Mulia menjadi sangat protektif terhadap orang-orang yang dia sayangi. Dia tidak pernah lagi bisa tenang jika ada orang di sekitarnya yang menderita, karena dia tahu bagaimana rasanya kehilangan.

“Jadi, Ustadz Mulia itu punya adik?” tanya Fatimah setelah mendengar cerita.

“Punya. Siti sekarang udah jadi dokter di Medan. Dia bisa sekolah tinggi karena Ustadz Mulia yang ngasih motivasi dan support.”

“Terus kenapa dia jadi pengasuh pesantren?”

“Karena dia merasa, pesantren ini kayak rumah kedua. Santri-santri di sini kayak adik-adiknya. Dia ga bisa diam kalo ada yang sakit atau butuh bantuan.”

Fatimah mulai paham. “Jadi, dia ngasih obat ke saya karena…”

“Karena dia inget sama adiknya. Dia takut kalo kamu sakit parah, sama kayak dulu Siti yang hampir meninggal.”

Air mata mulai menggenang di mata Fatimah. “Astaghfirullah, Ustadz. Saya salah paham.”

“Nak, dalam Islam ada yang namanya husnudzon. Berprasangka baik. Sebelum kita judge seseorang, coba kita cari tahu dulu alasan dia berbuat seperti itu.”

Keesokan paginya, Ustadz Mulia sedang mengajar tafsir di kelas 2 Aliyah. Seperti biasa, dia mengajar dengan penuh semangat, sesekali menyisipkan humor untuk membuat santri tidak bosan.

“Dalam surah Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman: ‘wajtanibu kathiran mina dzh-dhanni, inna ba’dha dzh-dhanni ithm.’ Jauhilah banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”

Ahmad, santri putra yang kemarin dibelikan buku tulis, mengangkat tangan. “Ustadz, kenapa prasangka itu bisa jadi dosa?”

“Karena prasangka buruk itu bisa merusak hubungan antar manusia, Ahmad. Coba bayangkan, kalo ada orang yang ngebantu kamu, tapi kamu malah curiga sama dia. Gimana perasaan orang itu?”

“Sedih, Ustadz.”

“Betul. Makanya, sebelum kita berprasangka buruk, coba kita cari tahu dulu kebenaran yang sesungguhnya.”

Setelah pelajaran selesai, Fatimah menghampiri Ustadz Mulia. “Ustadz, maaf kemarin saya salah paham.”

Ustadz Mulia tersenyum. “Salah paham gimana, nak?”

“Saya pikir Ustadz ngasih obat karena ada maunya. Ternyata Ustadz cuma peduli sama kesehatan saya.”

“Alhamdulillah, kalo Fatimah udah paham. Ustadz cuma ga mau ada santri yang sakit. Kalo sakit, gimana mau belajar?”

“Ustadz, boleh saya tanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kenapa Ustadz selalu peduli sama kami? Padahal ngurus santri sebanyak ini pasti capek.”

Ustadz Mulia terdiam sejenak. “Fatimah, kamu punya adik?”

“Punya, Ustadz. Dua orang.”

“Kalo adik kamu sakit, kamu gimana?”

“Langsung saya bawa ke dokter, Ustadz.”

“Nah, buat Ustadz, kalian semua itu kayak adik Ustadz. Makanya, kalo ada yang sakit atau butuh bantuan, Ustadz ga bisa diam.”

Fatimah menunduk, merasa malu dengan prasangka buruknya. “Maaf, Ustadz. Saya janji ga akan berprasangka buruk lagi.”

“Ga papa, nak. Yang penting sekarang udah paham.”

Sore itu, Ustadz Mahmud dan Ustadz Mulia duduk di teras pesantren sambil minum teh. Suasana senja di Banda Aceh selalu indah, dengan siluet Masjid Raya Baiturrahman di kejauhan.

“Mulia, tadi Fatimah datang ke saya,” kata Ustadz Mahmud.

“Complaint lagi, Ustadz?”

“Engga. Dia minta maaf. Bilang dia salah paham sama kamu.”

Ustadz Mulia tersenyum. “Alhamdulillah. Saya sempet sedih sih, dikira punya maksud yang engga-engga.”

“Kamu tau ga, Mulia? Kamu itu mirip sama guru saya dulu.”

“Siapa, Ustadz?”

“Tengku Hasan. Beliau pengasuh pesantren di Pidie. Orangnya persis kayak kamu, selalu peduli sama santri. Sampe-sampe beliau rela begadang kalo ada santri yang sakit.”

“Terus?”

“Terus, santri-santri sering salah paham sama beliau. Dikira beliau pilih kasih, dikira beliau mau nyari muka. Padahal beliau cuma peduli.”

Ustadz Mulia mengangguk. “Sama kayak saya berarti, Ustadz.”

“Iya. Tapi kamu tau apa yang beliau bilang waktu ada santri yang protes?”

“Apa?”

“Beliau bilang: ‘Nak, kalo ada orang yang peduli sama kamu, jangan langsung curiga. Mereka bukan musuh, mereka penyelamat. Mereka adalah orang yang paling berharga dalam hidup kamu.'”

Ustadz Mulia terdiam, merenungkan kata-kata itu.

“Mulia, kamu lakukan yang benar. Jangan berubah karena prasangka orang lain. Allah melihat niat kamu yang ikhlas.”

Tiga tahun kemudian, Ustadz Mulia dipindahkan ke pesantren lain di Medan. Hari perpisahan, semua santri berkumpul di aula pesantren. Banyak yang menangis, termasuk Fatimah yang dulu pernah berprasangka buruk padanya.

“Ustadz,” panggil Fatimah sambil menangis, “maaf saya pernah salah paham sama Ustadz.”

“Udah, jangan diinget lagi. Yang penting sekarang Fatimah udah paham.”

“Ustadz, saya mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Ustadz adalah orang yang paling berharga dalam hidup saya. Ustadz yang ngajarin saya arti kepedulian yang tulus.”

Ustadz Mulia tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Fatimah, kamu juga berharga buat Ustadz. Kalian semua berharga.”

Ahmad, yang dulu dibelikan buku tulis, juga maju ke depan. “Ustadz, makasih udah ngajarin kami bahwa peduli itu ga selalu dipahami orang. Tapi tetap harus dilakukan.”

“Makasih, Ahmad. Ingat, kalo kalian udah jadi orang dewasa nanti, jangan lupa peduli sama orang lain ya. Terutama sama orang yang butuh bantuan.”

“Siap, Ustadz!”

Lima tahun kemudian, Fatimah yang sudah menjadi guru di sebuah sekolah dasar di Banda Aceh, mengunjungi Ustadz Mulia di Medan. Dia membawa seorang anak kecil yang tampak malu-malu.

“Ini siapa, Fatimah?” tanya Ustadz Mulia.

“Ini Zahra, Ustadz. Murid saya. Dia yatim piatu, tinggal sama neneknya yang udah tua. Saya mau minta tolong Ustadz carikan pesantren yang bagus buat dia.”

Ustadz Mulia tersenyum. “Masya Allah, Fatimah. Kamu udah jadi kayak Ustadz dulu.”

“Belajar dari Ustadz, Ustadz. Ustadz yang ngajarin saya bahwa peduli itu ga kenal batas.”

“Alhamdulillah. Zahra, kamu mau sekolah di pesantren?”

Zahra mengangguk malu-malu. “Mau, Ustadz. Tapi takut ga ada yang peduli sama saya.”

“Subhanallah, nak. Di pesantren, semua orang akan peduli sama kamu. Termasuk Ustadz.”

“Beneran, Ustadz?”

“Beneran. Soalnya, orang yang peduli sama kamu itu bukan musuh, tapi penyelamat. Mereka adalah orang yang paling berharga dalam hidup kamu.”

Zahra tersenyum, untuk pertama kalinya sejak bertemu Ustadz Mulia. Dan di senyum itu, tersimpan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *