Menilai Orang dari Penampilan? Ini Pandangan Imam Syafi’i

Oleh: Mishbahul Munir, S.Hum., M.Pd

Belakangan ini banyak orang mulai menyadari bahwa penampilan adalah sesuatu yang harus diperhatikan. Tren Tiktok telah mengubah persepsi netizen akan sebuah penampilan. Tren anak muda sekarang mengatakan bahwa glowing atau punya outfit yang proper adalah syarat untuk sebuah kenyamanan dan kebanggaan.

Namun, fenomena ini telah menjadi fatamorgana seakan-akan penampilan adalah satu-satunya syarat identitas seseorang. Padahal penampilan bukanlah cerminan dari karakter seseorang. Sejenak kita merefleksi kembali bagaimana Imam Syafi’i, sang imam tersohor memandang sebuah penampilan. Beliau banyak memberikan nasehat dan kritik sosial dengan cara yang sangat indah. Nasehat itu berbentuk syair-syair indah yang termaktub dan dikumpulkan dalam Diwan-nya.

Diriwayatkan oleh Abubakar bin Bintu Syafi’i bahwa suatu ketika saat Imam Syafi’i keluar dari kota Makkah menuju Mesir ia dihadang oleh begal. Waktu itu beliau beserta rombongan lainnya singgah dari masjid ke masjid untuk menghindari pembegalan. Saat itu beliau hanya berpakaian biasa dan membawa sebuah حُزمة yang berarti seikat bungkusan. Kemudian begal itu masuk ke dalam masjid dan rombongan lainnya pergi tanpa mengajak atau memperingati beliau sehingga ia terjerat. (Umar Ath-Thabba’, Syarah Diwan Imam Asy-Syafi’i [Syirkah Darul Arqam bin Abil Arqam, Beirut, tt] h. 70)

Saat itu beliau bersyair:

عَلَيَّ ثِيَابٌ لَوْ تُبَاعُ جَمِيْعُهَا # بِفَلْسٍ لَكَانَ اْلفَلْسُ مِنْهُنَّ أَكْثَرَا

وَفِيْهِنَّ نَفْسٌ لَوْ تُقَاسُ بِبَعْضِهَا # نُفُوْسُ اْلوَرَى كَانَتْ أَجَلَّ وَأَكْبَرَا

وَمَا ضَرَّ نَصْلُ السَّيْفِ إِخْلَاقُ غَمْدِهِ # إِذَا كَانَ عَضْباً أَيْنَ وَجَّهْتُهُ فَـرَى

Artinya:  “Aku memiliki pakaian, andai dijual semua dengan uang receh, mungkin jumlah receh itu malah lebih banyak. Namun di balik pakaian itu ada sebuah jiwa, jika jiwa itu ditimbang melawan jiwa-jiwa manusia lain, (jiwaku) akan lebih mulia dan lebih besar. Sarung pedang yang usang belum merusak ketajaman sebuah pedang, selama ia dapat memotong kapan saja yang kamu mau.(Imam Syafi’i, Diwan Asy-Syafi’i [Maktabatul Kulliyyatul Azhary, Kairo, 1985] cetakan ke-II, h. 78)

Saat itu Imam Syafi’i memakai pakaian biasa dan murah “ثيابه البخسة”, sehingga orang-orang tidak menghiraukannya. Ini terlihat jelas bahwa banyak orang melihat seseorang itu hanya dari penampilannya saja. Akan tetapi orang-orang jarang sekali melihat pada jiwa yang ada di balik kesederhanaan lahiriah itu. Ada sosok yang begitu agung, penuh ilmu, ketakwaan dan kebajikan. Ini menyiratkan kehormatan batiniah yang jauh lebih berharga dari hal-hal fisik.

Syair ini menunjukkan bahwa Imam Syafi’i tidak mengutamakan hal yang bersifat materi atau fisik. Kata “فلس” (receh) di sini melambangkan kekayaan duniawi yang remeh, sedangkan “نَفْسٌ” melambangkan inti diri/kepribadian. Ia menegaskan bahwa esensi batin seseorang jauh lebih berharga daripada sekadar tampilan lahir. Di sini Imam Syafi’i ingin mengajarkan kita makna sebuah kejujuran batin dan integritas. Pesannya agar tidak menilai seseorang dari tampilan luar saja sangat jelas.

Memang benar, agama menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa hidup bersih dan rapi. Namun, orang yang memakai pakaian, sandal dan sepatu yang bagus tidak boleh bersikap sombong. Apalagi kepada orang yang berpakaian tidak seperti dirinya. Berpakaian lusuh atau berpenampilan kurang menarik bukan berarti ia tidak bersih atau tidak cantik. Justru kita harus menilai orang dengan cara yang lebih bijak, berdasarkan ketakwaan dan perilakunya.

Imam Syafi’i mengajarkan kita arti sebuah kepercayaan diri yang sehat dan hormat terhadap diri sendiri berdasarkan prestasi, moral, dan kemampuan, bukan kemewahan luar. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan karakter kontemporer yang menekankan self-esteem berbasis prestasi dan akhlak. Selanjutnya, beliau memberi pesan untuk tidak menilai sebuah buku dilihat dari sampulnya saja. Tidak mudah men-judge orang dari penampilan dan mengambil kesimpulan sepihak tanpa bertadabur terlebih dahulu. Langkah ini akan mewujudkan masyarakat yang lebih baik dan bersahaja. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *