Oleh Azmi Abubakar
Ramadan merupakan bulan pendidikan jiwa, perbaikan akhlak, dan peneguhan kemenangan. Dalam sirah Rasulullah Ramadan menjadi momentum besar mempertemukan kemenangan dan perdamaian. Dari sini menarik jika mengulas perang Badar yang terjadi di bulan ini, kala itu Rasulullah dan para sahabat berangkat dengan persiapan yang sangat terbatas. Jumlah mereka sedikit, perlengkapan seadanya. Selanjutnya wujudnya strategi, ketaatan, kesabaran, dan keikhlasan pada gilirannya membawa kemenangan melampaui batas logika masnusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemenangan datang dengan pertolongan Allah bagi orang-orang yang bertakwa.
Puncak pesan Ramadan tentang perdamaian tampak jelas pada Fathu Makkah. Rasulullah memasuki Makkah sebagai pemenang. Kota yang dahulu mengusir, menyakiti, bahkan ingin membunuh beliau, dapat ditaklukkan dengan kehormatan. Saat itu Rasulullah datang dengan sepuluh ribu pasukan dan berkata kepada penduduk Makkah:“Pergilah, kalian semua bebas.”Inilah kemenangan yan dibingkai oleh pemaafan. Kemenangan yang melahirkan perdamaian dengan penuh kehormatan.
Karenanya, jika seseorang berpuasa tetapi masih gemar menyakiti orang lain, berdusta, dan menebar kebencian, maka nilai puasanya menjadi kosong. Ramadan adalah latihan akan nilai sosial dengan membangun empati, menurunkan ego, dan menenangkan konflik. Ramadan mengajak muslimin menjadikan agama sebagai jalan damai, bukan alat permusuhan. Menjadikan ibadah sebagai energi rekonsiliasi, bukan legitimasi kebencian. Ramadan mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, tetapi menaklukkan diri sendiri. Perdamaian mesti menghadirkan keadilan, kasih sayang, dan saling memaafkan.
Nilai inilah yang kelak diwarisi dalam sejarah Islam berikutnya, perang Ain Jalut melawan Mongol misalnya. Perang Ain Jalut terjadi pada 25 Ramadan 658 H atau 3 September 1260 M di sebuah tempat bernama Ain Jalut terletak di wilayah Palestina. Pasukan Muslim dipimpin oleh Sultan Saifuddin Qutuz dari Dinasti Mamluk Mesir, dengan panglima perang yang sangat cerdas berhasil mengalahkan Tentara Mongol yang sebelumnya telah meluluhlantakkan Baghdad.
Berikutnya pada masa Sultan Muhammad al-Fatih, penaklukan Konstantinopel Romawi Timur di bulan Ramadan telah mengubah peta dunia. Setelah kemenangan itu, gereja, dan komunitas non-Muslim dilindungi. Tidak ada pemaksaan akidah. Kemenangan berbalut keadilan dan perlindungan martabat manusia. Non-Muslim turut merasakan keberkahan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang kuat ditandai oleh keberanian untuk berbuat adil dan menebar damai. Dalam bukunya Muhammad As salabi mencatat sebuah nasehat yang mulia dari Muhammad Al-Fatih kepada anaknya, agar tetap menjaga dan menghormati nilai kemanusiaan, Muhammad Al-Fatih menjadi teladan ketika memasuki Konstantinopel dengan kerendahan hati dan sikap menghormati sebagai pemenang perang.
Dalam geopolitik modern, peperangan tak lagi bicara soal batas wilayah dan ideologi, adanya pertarungan atas sumber daya alam menjadi kunci utama. Pada dasarnya hal ini mengulang kembali sejarah peperangan masa lalu dengan motif terbesarnya adalah perebutan ekonomi. Tegasnya serangan rudal Israel-Amerika Serikat dan Iran pekan ini di bulan Ramadan, menujukkan akan fakta ini. Yakni adanya keinginan kuat untuk menguasai ekonomi dunia dan potensinya di sini adalah Iran sebagai pemilik cadangan sumber daya alam yang sangat diperhitungkan.
Di sisi lain Muslimin tidak boleh abai bahwa Sultan Salahuddin al-Ayyubi menjadi arsitek persatuan. Beliau hidup di era ketika dunia Islam terpecah oleh rivalitas politik dan ketegangan mazhab. Kawasan Mesir berada di bawah Dinasti Fatimiyah yang berhaluan Syiah, sementara Syam dan wilayah lain didominasi kekuatan Sunni. Perpecahan itu membuat umat Islam lemah di hadapan ekspansi Tentara Salib yang telah lebih dulu menguasai Yerusalem sejak 1099.
Salahuddin yang membawa semangat keimuwan Imam Al Gazali memahami bahwa musuh terbesar adalah perpecahan internal. Karena itu, langkah awalnya adalah konsolidasi politik dan rekonsiliasi. Ketika ia mengambil alih Mesir dan mengakhiri kekuasaan Fatimiyah, salahuddin telah menata ulang administrasi, memperkuat lembaga pendidikan Sunni,
Persatuan inilah yang menjadi fondasi kemenangan monumental dalam Battle of Hattin pada 1187 M. Dalam pertempuran itu, pasukan Salib mengalami kekalahan telak. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi pembebasan Yerusalem setelah hampir sembilan dekade berada di tangan Tentara Salib.
Sultan Salahuddin memberi jaminan keselamatan kepada penduduk kota, termasuk umat Kristen. Banyak tawanan dibebaskan atau ditebus dengan cara yang manusiawi. Sikap ini bahkan mendapat penghormatan dari lawan-lawannya, termasuk figur seperti Richard the Lionheart yang kemudian berhadapan dengannya dalam Perang Salib Ketiga. Di sinilah letak keagungan moral dengan memadukan kekuatan dan belas kasih. Sejarah telah mengajarkan satu pelajaran sebelum menghadapi musuh di luar, umat harus berdamai dan bersatu di dalam. Karena kemenangan terbesar adalah menaklukkan ego dan perpecahan yang menggerogoti dari dalam.
Ramadan adalah pesan bahwa kemenangan terbesar adalah menaklukkan amarah. Ramadan tidak hanya berakhir dengan Idulfitri, tetapi melahirkan peradaban yang lebih manusiawi. Ramadan tahun ini dalam dunia global mesti melahirkan izzah atau kemuliaan muslimin di tengah angkuhnya Firaun dan Syaitanul ‘Adham, Semoga Ramadan ini menjadikan kita umat yang bersatu, dan dewasa dalam menyikapi perbedaan sebagaimana Rasulullah telah meneladankan bagaimana meraih kemenangan. Semoga!
