Overdose

Seutas Cerpen Oleh Thasoedi (Guru MTs)

Di kampung itu, orang-orang memanggilnya Abu Daud. Bukan karena ia orang besar atau pernah memimpin apa-apa, tapi karena tutur katanya selalu terasa teduh, seperti angin sore yang lewat di sela batang kelapa. Ia tidak pernah banyak bicara, namun setiap kalimatnya seolah mengandung timbangan yang adil. Anak yatim mengenalnya sebagai tangan yang tak terlihat, yang kadang menyelipkan beras di depan pintu. Fakir miskin menyebutnya “orang tua yang tidak suka disebut dermawan.”

Di serambi meunasah, selepas asar, ia sering duduk bersandar pada tiang kayu yang mulai lapuk. Sambil memandang jalan tanah yang dilalui anak-anak pulang mengaji, ia biasa berkata pelan,

“Hidup itu bukan soal seberapa cepat kita tahu sesuatu, tapi seberapa dalam kita memahami apa yang kita tahu. ”Orang-orang mendengar, mengangguk, lalu pulang membawa rasa cukup.

Namun suatu hari, anak sulungnya pulang dari kota, membawa sebuah benda kecil berkilau.

“Abu, ini untuk Abu. Supaya tidak ketinggalan zaman,” katanya sambil tersenyum bangga.

Telepon pintar itu, awalnya, hanya menjadi jam, kalender, dan sesekali alat untuk melihat foto cucu. Abu Daud tertawa kecil setiap melihat wajah cucunya bergerak di layar. “Hebat kali dunia ini, ya,” gumamnya. Tapi dunia tidak hanya membawa tawa.Beberapa hari kemudian, seorang tetangga mengajarinya membuka aplikasi berita. Lalu satu berita membuka pintu bagi berita lain. Tentang pembunuhan. Tentang pencurian. Tentang anak durhaka. Tentang orang yang ditipu. Tentang bumi yang makin panas. Tentang manusia yang makin kehilangan arah. Dan dari sana, sesuatu yang halus mulai berubah.

Pak Razin, yang sepuluh tahun lebih muda dari Abu Daud, adalah orang yang cukup peka membaca perubahan. Ia tidak banyak bicara, tapi ia tahu kapan sesuatu tidak lagi seperti biasanya.

Mereka biasa duduk berdua di tangga meunasah menjelang magrib. Udara mulai dingin, ayam-ayam naik ke kandang, dan suara azan dari kejauhan seperti memanggil pulang segala yang tercerai.

Suatu sore, Pak Razin memperhatikan Abu Daud tidak lagi memandang jalan, tapi menunduk menatap layar.“Abu, lihat apa?” tanyanya pelan.“Ini, Razin. Dunia ini makin rusak rupanya,” jawab Abu Daud tanpa mengalihkan pandangan. “Setiap hari ada saja kejahatan. Orang sekarang seperti tak ada takutnya lagi.”

Pak Razin mengangguk, meski hatinya terasa sedikit sempit.“Dunia memang begitu dari dulu, Abu. Cuma mungkin sekarang kita lebih sering melihatnya,” katanya hati-hati.Abu Daud menghela napas panjang. “ Kalau begitu, berarti kita ini selama ini hidup dalam kebodohan, ya? Tidak tahu betapa buruknya manusia?”

Pak Razin tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang langit yang mulai jingga.

Hari-hari berikutnya, perubahan itu makin jelas. Abu Daud mulai jarang ke rumah-rumah orang miskin. Ia tidak lagi berjalan menyusuri gang sempit membawa kantong beras. Sebaliknya, ia lebih sering duduk di rumah, menatap layar, membaca, menggulir, membaca lagi. Kadang ia mengirim uang.“Untuk korban ini,” katanya kepada anaknya.“Untuk yang itu,” katanya lagi keesokan harinya.

Anaknya bangga. “Abu sekarang lebih luas bantuannya. Tidak hanya kampung ini.”Tapi Pak Razin tidak merasa demikian.

Suatu malam, ia datang ke rumah Abu Daud. Ia melihat orang tua itu duduk sendirian, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar. “Ada apa, Abu?” tanya Pak Razin.Abu Daud menunjukkan layar itu. “Ini, Razin. Ada anak sakit. Butuh bantuan. Kasihan kali.”Pak Razin memperhatikan sekilas. Foto itu tampak menyentuh, tapi entah mengapa terasa terlalu rapi.“Abu yakin ini benar?” tanyanya pelan.

Abu Daud tersenyum tipis. “Kita ini diajarkan untuk percaya yang baik, bukan curiga terus.”Pak Razin mengangguk, tapi dalam hatinya muncul pertanyaan lain: apakah semua yang tampak baik itu benar?

Beberapa minggu berlalu.

Orang-orang mulai merasakan jarak yang aneh. Abu Daud yang dulu selalu hadir, kini seperti tinggal di dunia lain. Ia masih ada, tapi tidak sepenuhnya bersama mereka. Suatu sore, Pak Razin akhirnya berbicara dengan anak-anak Abu Daud.“Dek, kalian pernah perhatikan tidak, apa saja yang Abu lihat setiap hari di hape itu?”Anak sulungnya mengernyit. “Ya… berita-berita, paling. Kenapa?”

Pak Razin menghela napas pelan. “Karena apa yang kita lihat setiap hari, lama-lama akan jadi cara kita melihat dunia.”Mereka terdiam.“Abu kalian itu dulu melihat manusia dengan kasih. Sekarang… mungkin ia melihat manusia dengan ketakutan.”Anak kedua menunduk.

“Maksud abang?”Pak Razin tersenyum tipis.

“Coba kalian ingat, kapan terakhir kali Abu kalian datang sendiri ke rumah orang miskin di kampung ini?”Tidak ada yang menjawab.

Malam itu, selepas isya, Pak Razin duduk lagi bersama Abu Daud di meunasah. Angin berembus pelan. Lampu kuning menggantung, berayun sedikit, menciptakan bayangan yang bergerak di dinding.

“Abu,” kata Pak Razin, “boleh saya tanya satu hal?”Abu Daud mengangguk.

“Abu sekarang lebih sering melihat berita buruk atau kabar baik?”Abu Daud berpikir sejenak.

“Entahlah… mungkin lebih banyak yang buruk.” “Dan bagaimana perasaan Abu setelah itu? ”Abu Daud terdiam lebih lama. “Seperti… dunia ini tidak aman lagi.”

Pak Razin menatapnya dengan lembut. “Padahal kampung kita masih sama, Abu.”Abu Daud mengangkat wajahnya. “Anak-anak masih mengaji. Orang-orang masih saling bantu. Yang berubah… mungkin bukan dunia ini, tapi apa yang kita konsumsi setiap hari.”

Abu Daud tidak langsung menjawab. Pak Razin melanjutkan, suaranya pelan, hampir seperti bisikan angin, “Manusia itu, Abu… perlahan-lahan menjadi apa yang ia makan. Bukan hanya dari mulut, tapi juga dari mata dan telinga.”Abu Daud menatap layar di tangannya. Lalu, untuk pertama kalinya, ia mematikannya.

Beberapa hari setelah itu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam diri Abu Daud.

Ia kembali duduk di serambi meunasah, tapi tidak lagi sesering dulu. Ia kembali menyapa orang-orang, tapi sapanya terasa seperti sedang mencari sesuatu yang hilang.Suatu pagi, seorang anak yatim menemukan beras di depan pintunya.Orang-orang mulai berbisik, “Abu sudah kembali.”Tapi Pak Razin tidak sepenuhnya yakin. Karena sesekali, ia masih melihat Abu Daud menatap layar itu, lama, seperti orang yang sedang berusaha keluar dari sesuatu yang tidak terlihat.

Dan di suatu senja, ketika langit kembali jingga dan azan hampir berkumandang, Abu Daud berkata pelan,“Razin… kalau apa yang kita lihat bisa mengubah kita, lalu bagaimana caranya kita menjaga diri di dunia yang tidak pernah berhenti memberi kita sesuatu untuk dilihat?”Pak Razin tidak menjawab.Ia hanya tersenyum kecil, lalu memandang ke arah jalan tanah yang dulu selalu diperhatikan Abu Daud.

Di sana, seorang anak kecil berjalan membawa kitab mengaji, sendirian, tanpa alas kaki.

Dan pertanyaan itu menggantung di udara, seperti azan yang belum selesai dikumandangkan—

kalau kita adalah apa yang kita konsumsi, lalu… kita ini sedang menjadi apa sekarang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *