Terkadang Kita Baper dengan Nilai

Oleh: Mishbahul Munir, S.Hum

Di zaman generasi Z ini, sering terlihat di sekeliling kita fenomena-fenomena di mana kita sendiri tidak menyadari hal itu. Media sosial, mode pakaian, tren ini dan itu, semua menjadi perhatian kita hingga tergila-gila untuk menggapai tren itu semua. Belum lagi dengan semaraknya beberapa media sosial yang merengut moral remaja yang sedikit demi sedikit mulai mengikis nilai dan etikanya. Berbagai upaya sudah pernah dilakukan untuk menepisnya. Ada yang mulai terlihat membaik dan ada pula yang tenggelam kepada hal yang sama juga. Orang tua dan guru sama-sama berjuang untuk mendapatkan yang terbaik baik anak dan murid di masa mendatang.

Nilai bukanlah coretan angka atau tulisan pada laporan hasil belajar. Bukan pula yang ditulis oleh guru pada buku latihan siswa. Terkadang kita baper sama angka dan tulisan tersebut bahkan menjadikan ia segala-galanya. Kita tau bahwa coretan angka dan tulisan itu sebagai representasi dari hasil belajar dan karakter siswa. Namun bukan itu tujuan sebenarnya dari pendidikan yang diharapkan anak didik. Jangan sampai anak mendapatkan perlakuan menyedihkan karena ada angka yang rendah, atau bahkan ada orang yang mati-matian bembeli angka tersebut dengan cara apapun hingga melupakan intensitas dari sebuah nilai.

Selayaknya kita merenung diri kita masing-masing, apa tujuan kita sebenarnya dan apa tujuan dari pendidikan yang kita dan anak sedang jalani. Jangan sampai pemahaman dasar ini jadi keliru di awal dan terus berlanjut hingga kita lupa di mana pintalan awalnya. Sebenarnya proses untuk menjadi insan haqiqi dimulai dari kecil yang sudah dibina dengan baik oleh orang tua dengan penuh kasih sayang, selanjutnya di lembaga pendidikan yang langsung diasuh oleh guru dalam memberikan pandangan hidup. Dalam hal ini tidak lupa pula dibekali dengan ilmu-ilmu pendudukung kehidupannya kedepan. Menjadi insan yang mulia adalah harapan. Kebahagiaan adalah tujuan. Semuanya terkantung kepada setiap orang dalam menanggapinya.

Mental seseorang terbentuk dari rentetan proses yang dialaminya dari masa ke masa. Didikan masa kecil akan mempersiapkan dirinya di masa remaja, didikan remaja akan menyiapkan mental untuk masa dewasa, begitulah selanjutnya hingga hayat tiba. Muncul sebuah pertanyaan, seberapa siapkah kita menghadapi fase hidup selajutnya? Apakah cukup dengan mental yang seadanya saja? Tentu tidak, perlu persiapan matang untuk menghadapi tantangan besar yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kerja keras perlu difasilitasi dengan tekat dan semangat juang yang tinggi. Bukan dengan bersantai-santai terlena dengan keadaan dan menunggu nilai dalam rapor keluar. Hingga terbawa arus yang ntah berantah tak arah kamana. Sadarlah dengan nilai haqiqi yang ingin kita gapai, bukan baper dengan angka yang tertulis saja. Sekian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.